Mengulas Bosozoku: Geng Reckless Otomotif Jepang

Sebelumnya kita pernah mengulas mengenai Bosozoku ini. Meskipun demikian, ulasannya masih cukup singkat. Apalagi nilai sejarah dari geng otomotif ini sangatlah besar.

Ada beberapa request yang masuk untuk kembali membahas sejarah otomotif. Terakhir kita sempat membahas mengenai Lancia yang kehilangan pesonanya. Nah, sekarang kita coba membahas lebih dalam lagi mengenai Bosozoku ini.

Spirit of bosozoku memang tidak bisa dipisahkan dengan terutama bila kita berbicara mengenai scene JDM culture. Pengaruh mereka sangat besar dalam karakteristik modifikasi Jepang yang dikenal nyeleneh, reckless, dan freedom. Gaya kebebasan dan pemberontakan ini nantinya mempengaruhi modifikasi mobil seperti pada kaido racers, stance atau bahkan perpaduan antara gaya reckless dan modern. Hal ini bisa terlihat pada Rocket Bunny, Liberty Walk dan Rauh-Welt Begriff.

Disinilah memang kelebihan Jepang. Mereka menyerap budaya luar, mengakulturasikannya dengan budaya dan taste lokal serta berani keluar dari pakem atau jalur yang ada. Ditambah tentunya dengan kebanggaannya yang kuat, yang tadinya nyeleneh akhirnya diterima sebagai sebuah gaya baru yang unik dan keren.

Contoh lainnya, tentu masih ingat Lamborghini Morohoshi yang blink-blink? Banyaklah contoh-contoh lainnya.

“Take pride in what you do.”

Yah mungkin seperti itulah sekilas mengenai pentingnya untuk mengetahui sejarah dari geng Bosozoku ini. Oya, mereka juga sampai saat ini seringkali kita jumpai dalam pop culture, baik itu film, manga, acara-acara TV, video games, dan lainnya. Awalnya memang mereka merupakan geng motor tetapi seiring waktu, sebagian dari mereka juga ada yang menggunakan mobil.

Kita mulai saja ya. Siapkan kopinya hehe.

Sejarah serta Ideologi Awal

Ideologi awal atau konsep pertama dari Bosozoku muncul pada pasca perang dunia ke-2, yaitu sekitar 1950an. Perang meninggalkan bukan hanya kerugian material bagi Jepang, melainkan sistem sosial pun berubah. Banyak sekali orang yang kehidupan dan pemikirannya terimbas dari perang ini. Nasionalisme serta kebanggaan Jepang yang sangat kuat terpukul ketika negara ini menyatakan menyerah kalah pada sekutu pasca bom atom Hiroshima-Nagasaki.

Tidak sedikit tentara maupun warga sipil yang kemudian tidak bisa hidup dengan tenang. Mereka bingung, risau, trauma dan stress. Efek dari perang memang sangat mendalam dan bagi orang-orang yang gagal move on tentu ini sulit untuk dijalani.

Sebagian besar dari mereka kemudian mencurahkan energi dan kerisauan yang terpendam itu melalui otomotif dan perkumpulan geng jalanan.

Sebuah film Amerika berjudul “Rebel Without Cause” kemudian memompa pengaruh yang besar pada komunitas ini. Film tahun 1955 ini mengisahkan culture greaser anak muda Amerika yang liar dan memberontak pada sistem sosial masyarakat. Rebel Without Cause menjadi inspirasi anak-anak muda Jepang yang menjadi korban mental pasca perang untuk memberontak dan hidup bebas. Hampir semua dari mereka berasal dari kalangan kelas bawah pada sosial manyarakat Jepang.

Perkumpulan geng ini memberikan mereka identitas yang baru. Sebuah gaya hidup yang mereka banggakan. Pemberontakan yang terwujud dari ketidakpuasan mereka terhadap sistem, pemerintahan dan posisi mereka sebagai kalangan kelas bawah.

Selain itu, mereka juga menganggap diri mereka sebagai “Modern Samurai”. Perwujudan samurai dengan nilai Jepang yang kuat di masa modern, dimana menurut mereka Jepang kehilangan Japanese soul and spirit. Mereka merasa merekalah yang melindungi nilai-nilai lokal Jepang. Akulturasi antara budaya greaser/rockabilly dengan budaya Jepang ini bisa kita lihat salah satunya dari penampilan mereka.

Bosozoku, The Violent Speed Gang

Barulah sekitar 15 tahun kemudian atau awal 1970an, nama Bosozoku muncul.

Nama ini bukan nama yang diciptakan sendiri. Bosozoku merupakan nama yang dicetuskan media untuk memanggil para pemuda pemberontak ini. Ketika itu terjadi bentrok atau kerusuhan pertama kalinya antara para pemuda tersebut dengan polisi. Kerusuhan inilah yang kemudian esoknya menjadi berita besar di berbagai media Jepang. Para masyarakat shock dan terkejut. Kumpulan pemuda ini sampai bentrok dan ‘perang’ dengan polisi. Munculah nama Bosozoku yang berarti violent speed gang alias geng kebut-kebutan yang bengis!

Sebagaimana kita ketahui Jepang merupakan masyarakat yang sangat menjaga aturan dan norma yang kuat. Kerusuhan dengan polisi apalagi dilakukan para anak muda tentu sangat mengejutkan.

Pemberitaan ini kemudian malah membuat Bosozoku semakin kuat dan besar. Jumlah mereka terus bertambah sampai puncaknya mencapai 42.510 orang!

Era 80-an menjadi era yang disebut masa keemasan Bosozoku. Pada kurun waktu inilah geng motor ini benar-benar merebak dan meneror jalanan Jepang. Bukan hanya motor saja, mobil-mobil pun ikut hadir bersama mereka dan melakukan ritual konvoy di malam hari.

Penampilan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Bosozoku memegang teguh konsep samurai dan Japanese spirit. Mereka menganggap diri mereka sebagai penerus dan pelindung jiwa Jepang yang ‘hilang’ pasca kekalahan perang dunia ke-2. Ini salah satunya terlihat dari dandanan dan tampilan mereka.

Bendera imperial Jepang yang sangat terkenal di era perang (rising sun flag) bisa kita jumpai menghiasai tampilan geng ini. Mulai dari bendera, helm, motor, baju dan lainnya seringkali terdapat bendera imperial jepang.

Baju dari Bosozoku adalah seragam perang yang (tokkofuku) dibuat menyerupai seragam pilot bunuh diri kamikaze. Seragam ini pun dimodifikasi dengan tulisan-tulisan kanji Jepang yang berisikan slogan slogan spirit Jepang atau slogan yang berisikan semangat dan kebanggaan (pride). Tidak jarang seragam ini juga berwarna mencolok entah itu warna ungu, kuning, atau merah terang.

Tapi, tidak semua berpenampilan seperti ini.

Anggota yang baru masuk tidak akan full hardcore berpenampilan bosozoku style. Mungkin malu atau tidak enak dengan senior-seniornya, baru masuk udah heboh haha. Tapi alasan lainnya, dulu membuat seragam dengan berbagai pernak-perniknya itu tidaklah murah. Belum ditambah menghias dan memodifikasi motor. Oleh karena itu sebagian anggota geng ini ada juga yang tidak menggunakan seraram tokkofuku.

Sebagai gantinya mereka menggunakan busana ala greaser atau rockabilly yang tentunya dimodifikasi dengan style Jepang. Sepatu boots, jaket kulit, rambut ala greaser, flu mask atau penutup mulut, bandana (hachimaki) dan perlengkapan lainnya.

Karakteristik

Bosozoku dikenal sebagai geng reckless yang sering berbuat onar dan kerusakan. Mereka melanggar berbagai aturan lalu lintas seperti mengabaikan lampu merah, kebut-kebutan, tidak memakai helm, memblokade jalan, mengemudi ugal-ugalan, knalpot ultra-berisik, dan lain sebagainya.

Selain itu, mereka juga dikenal sebagai geng yang berbahaya. Bosozoku melakukan konvoy dengan menggerung-gerung motor, menyetir zig-zag, membunyi-bunyikan klakson. Mereka juga seringkali merusak properti umum serta meneriaki dan mengancam para pengguna jalan lainnya. Yang paling brutal, mereka selalu membawa dan mengacungkan senjata! Senjata ini bisa berupa tongkat baseball, pedang kayu, pipa besi, dan bahkan sampai bom molotov!

Kebayang ga ketemu geng beginian di malam hari? Ngeri bener ya!

Bosozoku akan merusak mobil atau motor yang menghalangi atau dianggap menantang mereka.

Tapi jangan salah, sebenarnya asal kita tidak menghalangi atau tidak menunjukkan ketidaksetujuan dengan mereka, maka kita akan aman-aman saja. Baiknya sih ya cepet-cepet aja pergi alias langkah seribu haha.

Sesuai dengan spirit Jepang mereka serta efek dari pasca perang, geng ini sangat membenci orang asing terutama kulit putih alias bule. Bila ketemu bule, sudah dapat dipastikan itu bule bakal ketakutan setengah mati diteriaki, diancam, diganggu atau bahkan diserang mereka.

Dikarenakan karakteristik ini, Bosozoku dianggap sebagai kriminal yang meresahkan. Masyarakat Jepang umum pun takut sekaligus tidak menyukai mereka.

Identiknya geng ini dengan kenakalan, kriminal dan kebebasan membuat tidak sedikit diantara mereka yang kemudian direkrut masuk ke dalam mafia Yakuza.

Kendaraan

Bukan hanya tampilan busana saja, kendaraan dari Bosozoku pun dimodifikasi dengan unik dan nyeleneh.

Aura gaya kebebasan dan liar dipadukan dengan sentuhan Japan spirit terlihat jelas dari hasil modifikasi mereka. Modifikasi yang anti mainstream, reckless, dan berani nyeleneh ini menjadi jiwa modifikasi Japan style sampai sekarang. Prinsip ini tetap dipegang teguh sampai sekarang oleh para tuner otomotif yang memang dulunya pernah terlibat atau setidaknya dibesarkan di era yang sama dengan scene Bosozoku ini.

Hal ini tentu berbeda dengan kita. Di kita nyeleneh sedikit, bisa habis dibuli hehe.

Motor bosozoku merupakan motor Jepang yang dimodifikasi dengan elemen American chopper dan British cafe racer. Elemen tersebut kemudian dipadukan dengan japan custom style yang mewakili Japan spirit. oversize fairing, stang yang tinggi, jok yang memanjang, serta corak warna yang unik dan cerah. Tidak ketinggalan cat motif api dan bendera imperial jepang.

Motor yang digunakan geng ini adalah motor jepang 250-400cc dengan knalpot super berisik. Knalpot ini sudah dimodifikasi untuk mampu meraung-raung dengan sangat kasar dan memekakkan telinga.

Seiring perjalanannya, beberapa anggota Bosozoku juga memiliki mobil. Mereka pun memodifikasi mobil ini dengan gaya yang mirip dengan modifikasi motor mereka. Kalo orang awam pasti menyebut ini ricer. Jangan salah, dulu belum ada istilah ricer. Gaya modifikasi ini merupakan ekspresi kebebasan dan kebanggaan dari Bosozoku.

Budaya yang Semakin Hilang

Keberadaan Bosozoku semakin lama semakin menghilang. Jumlah mereka semakin berkurang drastis. Awalnya Bosozoku terdiri dari 507 geng! Pada 2009 jumlahnya menjadi 76, entah sekarang berapa.

Jumlah anggota di Tokyo dulu mencapai 5800 orang, namun pada 2012 hanya tersisa 112 orang saja. Pada 2015, polisi Jepang menyatakan bahwa dari awalnya ada 42.510 orang anggota di 1980an, kini anggota Bosozoku berjumlah 6.771.

Apa saja penyebab berkurangnya?

Pada 2004 pemerintah Jepang merevisi UU lalu lintas yang memberikan polisi kewenangan untuk menangkap rombongan bikers yang berkendara ugal-ugalan/ berbahaya. Pernah melihat video jadul Bosozoku dimana para polisi hanya diam mengintai tidak bisa berbuat apa-apa? Nah, semenjak ada revisi UU ini polisi Jepang bisa langsung menangkap para Bosozoku yang berulah. Dengan giatnya penangkapan ini jumlah Bosozoku kemudian berkurang pesat.
Selain UU diatas, aturan lainnya pun semakin ketat. CCTV sudah ada dimana-mana. Hal ini semakin membatasi ruang gerak para anggota geng. Pelanggaran lalu lintas seperti mengemudi ugal-ugalan bisa membuat kita dipenjara 2 tahun. Bahkan modifikasi ilegal pada motor bisa membuat kita dipenjara 3 bulan!
Resesi ekonomi global yang juga mempengaruhi Jepang membuat harga kendaraan, modifikasi serta seragam custom dan pernak-perniknya menjadi mahal. Saat ini Bozoku lebih cenderung membeli motor scooter dibandingkan membeli motor serta menggunakan pakaian harian yang lebih normal dan murah.
Trend Jepang yang semakin modern dimana gengster tidaklah dipandang sekeren atau semenarik dulu. Anak-anak muda pun kebanyakan sudah tidak ingin berurusan atau menjadi anggota geng. Kenakalan mereka tentu masih tetap ada, tapi mereka tidak berminat atau takut untuk menjadi anggota geng seperti Bosozoku.
Salah satu teori menyebutkan video game juga mempengaruhi hilangnya budaya geng seperti Bosozoku ini. “Berkat” video game, anak-anak bisa merasakan kekerasan atau kriminal lainnya dan melampiaskan kemarahannya pada semisal dalam game GTA semacamnya.

Bosozoku Saat Ini

Saat ini Bosozoku masih ada, meskipun jumlahnya sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Populasinya pun semakin berkurang dari tahun ke tahun.

Bukan hanya dari jumlahnya saja, pesona dan nilai-nilai budaya geng ini semakin luntur. Saat ini para anggotanya tidak banyak yang memodifikasi motornya dengan Bosozoku style. Modifikasinya lebih simpel dan tidak mencolok. Bahkan tidak sedikit yang menggunakan motor scooter. Mereka pun sekarang lebih sering menggunakan helm, entah karena sudah sadar akan safety atau karena takut ditangkap polisi.

Busana mereka pun sudah tidak seperti dulu lagi. Seragam kebesaran tokkofuku sudah lama ditinggalkan. Mungkin hanya digunakan pada festival atau event tertentu saja. Kini mereka menggunakan pakaian normal sehari-hari. Ya beberapa masih berbau biker sih, seperti sepatu boot dan jaket.

Anak muda maupun dewasa yang gemar dengan motor culture khususnya motor antik atau retro sekarang membentuk grup baru. Komunitas ini disebut dengan Kyushakai (old bikers). Beberapa anggotanya ada juga yang merupakan ex-member Bosozoku.

Tetapi geng modern ini jauh lebih jinak dan normal. Mereka lebih taat peraturan dan tidak berbuat onar.

Meskipun dinilai nakal dan kriminal, sebagian pihak menganggap kenakalan Bosozoku jauh lebih ‘dewasa’ dan memiliki prinsip. Pada eranya dulu, mereka berkelahi untuk mencari siapa yang lebih kuat. Begitu pihak lawan kalah atau menyerah, seketika itu juga yang menang akan berhenti.

Kenakalan remaja di Jepang saat ini mengarah pada bullying. Berbeda dengan jaman old yaitu era Bosozoku, jaman now perkelahian berpusat pada bullying dan penyiksaan untuk kesenangan semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Releated

Apa Itu Supercharger dan Bagaimana Cara Kerjanya

Supercharger merupakan istilah yang tidak asing lagi di telinga para car enthusiast. Meskipun metode forced induction ini tidaklah sepopuler bila dibandingkan dengan saudaranya, turbocharger. Pada ulasan sebelumnya kita sudah pernah mengulang lengkap mengenai turbocharger. Rasanya kurang lengkap bila kita juga tidak membahas mengenai supercharger. Dalam ulasan kali ini, kita akan membahas apa itu supercharger dan […]

Mengenal Berbagai Jenis Kejuaraan Balap Mobil

Kejuaraan balap mobil tidak dapat dipungkiri sebagai bagian penting dalam perkembangan car culture. Tidak sedikit terobosan teknologi baru muncul dari panasnya persaingan kejuaraan balap mobil. Entah itu dalam sektor mesin, suspensi, aerodinamis, ban, dan lainnya. Tekhnologi itupun kemudian juga diaplikasikan atau diadaptasikan pada mobil-mobil produksi masal. Balap mobil juga bukan hanya sekedar motorsport atau olahraga […]